14 JANUARI

Hari yang begitu luar biasa….rasanya seperti melayang….

Pagi tadi aku terbangun, dengan menemukan lengan RA memelukku. Rasanya begitu hangat, merasakan kuat tubuhnya yang begitu kontras dengan lembut kulitku, membuatku merasa aman dan percaya dengan janjinya ‘untuk selalu melindungiku’. Sudah 10 hari aku menjadi ‘istri illegal’ nya, karena ia masih bersikeras menepati janjinya padaku ‘untuk tak menyentuhku dahulu’ (hehe, ILLEGAL karena rasanya memang seperti tak lengkap……ahh aku baru tau, ternyata penyatuan tubuh itu, memang begitu pentingnya, sebagai tanda kepemilikan!).

Tak ada yang berubah, hingga rasanya seperti tidak ada yang terjadi. Karena memang tidak ada apapun jua yang terjadi…..

Tak ada siapapun jua yang menemani kami saat mendaftarkan pernikahan, juga saat mengambil sertifikatnya, yang ditanggapi dengan senyum aneh oleh petugasnya. Tak ada perayaan apapun, hingga tak ada kekhusyukan tangisan seorang pengantin perempuan di tengah keriuhan ramai orang, seperti yang biasanya terjadi di setiap hari pernikahan. Tak ada cincin yang melingkar di jari manisku, sebagai tanda bahwa aku sudah menjadi milik orang lain, atau kadang-kadang hanya sebagai bahan pembicaraan gosip ‘berapa karat’ di antara teman-teman borjuisku dulu.

Hanya sebuah lengan kuat, yang melingkari tubuhku di saat ku tertidur dan di saat ku terjaga…….dan itu sudah cukup bagiku memulai hari, seperti pagi ini.

Yup juga tak ada rasa deg-deg an seorang pengantin perempuan di pagi pertama pada bulan madu mewahnya, karena yang ada hanyalah senyum jail khas ala RA yang menyapaku dengan sama memerindingkannya, sebelum aku jungkir balik di pagi itu untuk bersiap-siap masuk kantor baru. Benar luar biasa rencana Tuhan, di hari yang sama RA akan mengambil barang-barangnya di kantornya beserta surat pemecatannya, aku juga akan menandatangani surat kontrak kerja pada suatu bank.

Kok bisa yaa, begitu tepatnya rencana NYA?

Yang makin mengukuhkan niatku untuk mengiyakan rencana RA, buat tetap ‘menjaga tidak tidur bersama layaknya suami istri’ dulu, seperti rencana awal berapa bulan yang lalu. Aku tak boleh hamil, karena kantor baruku tak tau aku sudah menikah, karena memang aku belum menikah secara resmi saat dulu mulai melamar pekerjaan (hingga waktu itu rasanya bukan masalah besar menyetujui persyaratannya, untuk tak boleh menikah dahulu).

Aku tahu itu bukan alasan kuat, karena kami juga bisa menggunakan metode kontrasepsi. Tapi entahlah, rasanya aku tak tega terhadap cinta kami. Bagiku lebih baik menunggu, karena aku ingin merayakan cinta kami tanpa penghalang apapun, juga tanpa ribuan syarat muluk dari dunia sekeliling kami. Aku hanya ingin saat waktu itu tiba, hanya ada cinta kami dan juga senyum percaya diri dari seorang laki-laki bermata nakal.

Aku ternyata, juga sama menginginkan, semua kata-kata RA waktu itu “aku ingin merayakan cinta kita dengan kesempurnaan, hingga aku bisa berteriak bangga pada dunia, tanpa perlu ada yang ditutupi lagi.”

2 komentar: