Malam ini aku terbangun tiba-tiba karena kepanasan.
Tanpa sadar aku berusaha meraih remote AC yang biasanya menempel di dinding kamarku. Ahh baru teringat, kalau aku bukan sedang berada di kamar lamaku, yang besar dan nyaman. Kulihat di sekelilingku, tempat tidur single bed yang sangat keras dan beberapa perabotan sederhana. Kutatap wajah pria yang tertidur nyenyak di sampingku. Walau sudah 3 hari kami tidur bersama, belum sekalipun, ia menyentuhku.
Duhh benarkah yang sedang kulakukan ini?
Beberapa hari yang lalu, aku sudah melakukan perjudian dan bertaruh dengan nasibku sendiri. Aku perempuan yang katanya cerdas, tapi sudah sukarela tinggal bersama di bawah satu atap dengan seorang pria, tanpa ikatan hukum apapun. Aku bahkan rela meninggalkan istana keluargaku dan membuat mereka dicemooh semua orang, hanya demi pria yang sedang tertidur dalam damainya, di sampingku ini.
Bagaimana mungkin seorang perempuan yang katanya rasional dan cerdas melakukan ini semua?
Aku bahkan mempertaruhkan nasibku, pada janji seorang pria ‘yang tidak akan menyentuhku, sampai semua tertata rapi, 2 tahun lagi nanti’. Ahh apa mungkin seorang pria yang dulu terkenal nakal dan datang dari keluarga yang tidak mengenal agama, bisa memegang janjinya. Bukan salahnya! Tapi salahku, yang sudah terlalu mencintainya, hingga rela melakukan apapun demi dirinya.
Apa iya aku mencintainya, sebesar itu?
Aku nggak tau. Yang aku tau, ia menawarkan dunia baru yang berbeda jauh dari istanaku. Saat mengenalnya pertama kali, aku sudah terpesona oleh ‘kegelapan dunianya’. Pria bermata nakal yang ditakuti teman temanku, karena pernah dipukuli olehnya saat terlibat perkelahian massal yang dimenangkan oleh pihaknya, sekaligus pria cerdas dengan nilai tertinggi se fakultasnya. Ia mungkin datang dari keluarga yang berantakan dan patut dipertanyakan nilai moralnya, tapi selama bersamaku, ia hanya pria biasa ‘yang sinis terhadap dirinya sendiri tapi selalu bisa memberiku kedamaian’.
“Ehh sudah pagi, waktunya aku siap-siap buat menyiapkan sarapan untuknya. Aduhh, aku masak apa lagi ya? nggak mungkin kan indomi mulu? Aku pingin belanja di tukang sayur, tapi bagaimana caranya ya? cara nawar, yang biar nggak keliatan jahat tapi bisa dapet harga murah?……cara beli bumbu, yang aku tau dari resep tapi belum pernah tau bentuk awalnya di tukang sayur?…….juga apa iya, orang itu masih mau makan ala vegetarian terus sepanjang hidup nya bersamaku, secara aku belum pernah memegang ikan mati ataupun ayam mati. Aduhh kenapa hidup jadi mulai rumit ya?”