14 JANUARI

Hari yang begitu luar biasa….rasanya seperti melayang….

Pagi tadi aku terbangun, dengan menemukan lengan RA memelukku. Rasanya begitu hangat, merasakan kuat tubuhnya yang begitu kontras dengan lembut kulitku, membuatku merasa aman dan percaya dengan janjinya ‘untuk selalu melindungiku’. Sudah 10 hari aku menjadi ‘istri illegal’ nya, karena ia masih bersikeras menepati janjinya padaku ‘untuk tak menyentuhku dahulu’ (hehe, ILLEGAL karena rasanya memang seperti tak lengkap……ahh aku baru tau, ternyata penyatuan tubuh itu, memang begitu pentingnya, sebagai tanda kepemilikan!).

Tak ada yang berubah, hingga rasanya seperti tidak ada yang terjadi. Karena memang tidak ada apapun jua yang terjadi…..

Tak ada siapapun jua yang menemani kami saat mendaftarkan pernikahan, juga saat mengambil sertifikatnya, yang ditanggapi dengan senyum aneh oleh petugasnya. Tak ada perayaan apapun, hingga tak ada kekhusyukan tangisan seorang pengantin perempuan di tengah keriuhan ramai orang, seperti yang biasanya terjadi di setiap hari pernikahan. Tak ada cincin yang melingkar di jari manisku, sebagai tanda bahwa aku sudah menjadi milik orang lain, atau kadang-kadang hanya sebagai bahan pembicaraan gosip ‘berapa karat’ di antara teman-teman borjuisku dulu.

Hanya sebuah lengan kuat, yang melingkari tubuhku di saat ku tertidur dan di saat ku terjaga…….dan itu sudah cukup bagiku memulai hari, seperti pagi ini.

Yup juga tak ada rasa deg-deg an seorang pengantin perempuan di pagi pertama pada bulan madu mewahnya, karena yang ada hanyalah senyum jail khas ala RA yang menyapaku dengan sama memerindingkannya, sebelum aku jungkir balik di pagi itu untuk bersiap-siap masuk kantor baru. Benar luar biasa rencana Tuhan, di hari yang sama RA akan mengambil barang-barangnya di kantornya beserta surat pemecatannya, aku juga akan menandatangani surat kontrak kerja pada suatu bank.

Kok bisa yaa, begitu tepatnya rencana NYA?

Yang makin mengukuhkan niatku untuk mengiyakan rencana RA, buat tetap ‘menjaga tidak tidur bersama layaknya suami istri’ dulu, seperti rencana awal berapa bulan yang lalu. Aku tak boleh hamil, karena kantor baruku tak tau aku sudah menikah, karena memang aku belum menikah secara resmi saat dulu mulai melamar pekerjaan (hingga waktu itu rasanya bukan masalah besar menyetujui persyaratannya, untuk tak boleh menikah dahulu).

Aku tahu itu bukan alasan kuat, karena kami juga bisa menggunakan metode kontrasepsi. Tapi entahlah, rasanya aku tak tega terhadap cinta kami. Bagiku lebih baik menunggu, karena aku ingin merayakan cinta kami tanpa penghalang apapun, juga tanpa ribuan syarat muluk dari dunia sekeliling kami. Aku hanya ingin saat waktu itu tiba, hanya ada cinta kami dan juga senyum percaya diri dari seorang laki-laki bermata nakal.

Aku ternyata, juga sama menginginkan, semua kata-kata RA waktu itu “aku ingin merayakan cinta kita dengan kesempurnaan, hingga aku bisa berteriak bangga pada dunia, tanpa perlu ada yang ditutupi lagi.”

4 JANUARI

Begitu banyak cerita yang terjadi dalam beberapa hari ini, hingga aku bingung sendiri, harus dari mana untuk mulai menulis.

Prolog, beberapa hari yang lalu…..

Sore itu aku sedang sibuk membersihkan rumah, karena orang tua RA akan datang beberapa hari lagi. Well, aku berharap paling nggak, tempat mungil kami nggak akan terlalu kelihatan sumpek, saat nanti mereka marah waktu akhirnya mengetahui bahwa aku sudah tinggal serumah dengan anak laki-laki satu-satunya mereka, tanpa selembar pun surat nikah (hehe apa coba hubungannya!).

Segitu semangatnya bersih-bersih, sampai tak menyadari, ada seorang lelaki paruh baya sedang memperhatikanku dari kejauhan. Bapak itu terlihat gagah, walau tatapan matanya terlihat begitu lembut, diterpa hangatnya matahari senja itu. Laki-laki itu terlihat berbeda jauh, dengan laki-laki yang sering berteriak padaku, di setiap pertengkaran yang terjadi sejak aku mengenal RA. Ia kemudian memelukku, menciumku di dahi dan menanyakan “Jadi, yang tinggal di sebelah rumahmu itu, tukang pijet dan tukang sayur ya? Enak dong, jadi bisa dapet diskon, kalau mau belanja sekalian luluran?”

Epilog malam ini….

RA terlihat tersenyum jail. Sepertinya, hari ini dia sudah memutuskan untuk sering memberikan bonus kernyitan tatapan nakal, untuk istri barunya. Tadi pagi, dengan tertatih-tatih melangkah (Akibat kecelakaan beberapa hari yang lalu, kaki RA harus dijahit! ooh i wish, aku bisa dengan heroik bercerita, kalau RA kecelakaan karena ditabrak truk atau bis…….sayangnya dia cuma ketabrak bajaj! ………hehehe walau jelas aku juga sangat bersyukur!), kami berdua mencatatkan pernikahan di instansi pemerintah dekat rumah orang tuaku.

(Yah, TANPA DIDUGA dan benar sebuah kejutan besar bagi kami. Beberapa hari yang lalu, ayahku mengusulkan untuk meresmikan hubungan kami, begitu tau kalau orang tua RA akan datang. Demi darah yang sama mengalir di nadiku, ayahku tak ingin aku bersedih, karena membuat orang tua RA merasa anaknya ‘tak diinginkan’!!)

Sesuai permintaanku, tak ada cincin yang melingkar di jariku, karena aku tau, RA lebih membutuhkan uang itu untuk membayar biaya kuliah semester depan. Dan sesuai permintaannya, tak ada malam pertama jua di ujung hari ini, karena RA sudah memutuskan untuk tetap menepati janjinya padaku ‘meneruskan main rumah-rumah an’ hingga 2 tahun ke depan nanti “saat keadaan sudah jauh tertata rapi….saat kamu bisa bangga bersandar di pundakku…..saat aku tak merasa jengah lagi, menerima cinta tanpa syaratmu……Maaf, tapi kamu terlalu berharga buatku……..dan aku ingin menikmati semuanya perlahan……dalam kesempurnaan.”

(hehehe kenapa jadi malah tambah mendebarkan di dada ya? Saat tak ada lagi tembok penghalang…….Saat semua sudah legal…….satu tatapan mata nakalnya RA……..terasa seperti…..DEFINITELY MENGGODAKU UNTUK MENGGODANYA! ….halahhh Lebay!)

Naif kah, jika aku rela memberikan segalanya dan tak mengharapkan balasan apapun, pada seseorang yang memberikanku kedamaian untuk terus berjalan? Ahh seperti belum cukup rumit dengan semua masalah yang ada, RA akan dipecat dari kantornya, terhitung tanggal 14 Januari besok (….hihihi……ayoo dunia….timpuk aja terus!….mumpung lagi nggak ada, orang yang punya itu kepala!)

19 DESEMBER

Hari ini habis pulang dari kampus, aku jadi memikirkan banyak hal.

Teman deketku FIR, akhirnya mengetahui kalau aku sudah tinggal bersama RA. Daripada lelah untuk selalu mengelak dengan gaya basa-basi berjamur, aku akhirnya mengiyakan, saat dikonfirmasi tentang gosip yang merebak di antara teman-teman kampus. Dengan terkekeh-kekeh sepanjang pelajaran, ada rasa lega, akhirnya aku punya seseorang yang bisa diajak berbicara dengan jujur. Hanya ada dua pertanyaan pentingnya. Apakah RA di tempat tidur, ’senakal’ cerita hidupnya? dan Mengapa RA, bukan MR yang jelas jelas merupakan laki-laki yang lebih dari RA dalam segala hal menurut semua kacamata duniawi?

Karena aku malas menjawab pertanyaan pertama, maka diskusi selanjutnya berkembang ke pertanyaan ke dua………..dan sayangnya……aku tak tau jawabannya!

Sungguh aku tak mengerti mengapa aku memilih RA, ketimbang MR, yang jelas-jelas sudah diterima orang tuaku. Aku ingat, dulu aku sering berpura-pura minta ijin untuk pergi bersama MR, padahal nyatanya aku pergi bersama RA. Aneh memang, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta dengan MR, yang nyaris sempurna. Badan tingginya dan wajah tampannya, nggak kalah dengan model. MR juga terlihat sangat matang dan sabar, yang saat itu jauh berbeda dengan RA, hingga wajar orangtuaku begitu gembira saat aku membawa MR ke rumah.

Aku ingat saat dulu Papaku pertama kali bertemu RA…

Dengan kalung anjing melingkar di leher, dan telinga yang memakai anting, serta nada suaranya yang kata adikku seperti preman. Wajar jika papaku tidak jatuh cinta, bahkan selalu merasa sedih, karena sejak hari itu aku selalu bertengkar dengannya karena RA. Andai aku bisa jatuh cinta dengan MR, cerita hidupku pasti tak serumit sekarang. Tapi aku tak bisa, bagaimanapun kerasnya aku mencoba. Tiap detik saat bersama MR, rasanya seperti ribuan menit, yang membuatku selalu melirik jam di pergelangan tanganku untuk bisa segera pergi bertemu RA.

Yah aku sudah curang pada MR, selama 6 bulan itu……tapi pada RA, aku menceritakan segalanya……dan aku benci melihat tatapan terluka di mata RA, setiap kali dia menjemputku yang habis pergi dengan MR. Dia mengerti benar, kalau aku terpaksa melakukan itu, karena aku sudah lelah bertengkar dengan papaku. Satu yang membuatku makin jatuh dalam pelukannya, adalah karena RA tak pernah mengkonfrontir setiap masalah yang datang dalam hubungan kami, yang disebabkan karena orangtuaku. Dia cukup tau kalau aku selalu menempatkannya di atas segalanya, dan percaya penuh bahwa setiap tindakanku, pasti sudah dipersiapkan dengan detil hanya untuk cinta kami.

Aku baru sadar, ternyata sejak dari awal kami bertemu, kami sudah membuat benteng tersendiri dalam dunia kami……tempat dimana hanya ada MILI dan RA……..sementara yang lainnya hanyalah hembusan angin….

Aku sudah muak berbohong dan terus berpura-pura, hingga aku membongkar segalanya, sampai puncaknya aku akhirnya meninggalkan istana besarku dan tinggal bersama RA. Dan aku bahagia!

Barusan aku menangis, karena salah memencet tombol rice cooker, hingga berasnya belum jadi nasi (…..duhh sayangnya harus dibuang……) dan RA hanya tertawa(……..ahh aku selalu merasa damai saat menatap mata itu, yang selalu terlihat hanya segaris saat dia terbahak-bahak). Kemudian dengan tetap tersenyum, dia menyuruhku duduk dan menggantikanku memasak.

Aku tak tau apa yang akan terjadi di depan sana nanti………yang jelas saat ini…….AKU SANGAT BAHAGIA!

8 DESEMBER

Sudah lebih dari sebulan kami tinggal di bawah satu atap yang sama, tanpa status hukum dan RA masih tetap menjaga janjinya ‘untuk tak menyentuhku’.

Hal yang sangat tidak masuk akal sepertinya bagi orang lain, bahkan juga bagi diriku sendiri. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana RA ’si lelaki bermata nakal’ itu, boleh memandang hal ini sebagai hal yang sangat FENOMENAL tidak masuk akalnya. Sungguh ini bukan perjuangan mudah untuk tetap merasa waras, saat segala hasrat rasanya hampir meledak, hanya dengan sedikit sentuhan atau bahkan hanya dengan hembusan nafas yang kadang terlalu dekat.

Aku tokh hanya manusia biasa. Dan RA adalah………untungnya…..laki-laki yang sangat luar biasa.

Pagi ini, tak sengaja aku masuk ke kamar mandi, saat RA sedang menggosok gigi. Laki-laki ini punya kebiasaan buruk, untuk tak pernah mengunci kamar mandi, saat sedang di dalam. Tatapan matanya, seperti menantangku, “apa aku berani untuk tetap berada di dalam?”…….dan karena aku memang sudah kehilangan kewarasanku semenjak sebulan yang lalu, aku memutuskan untuk menutup pintu kamar mandi itu, dari dalam.

Terdengar suara para setan bersorak-sorai di kejauhan……..

Rasanya ternyata, benar-benar unbelievable menegangkannya, saat tatapan mata kami beradu di kaca kamar mandi. Hanya sebuah tatapan tajam, tapi bisa mengantarkan sejuta arus listrik. Sepertinya gosok gigi pagi itu, bisa memcahkan rekor MURI sebagai gosok gigi terlama. RA hanya tersenyum simpul, sambil terus menggosok giginya. Kemudian badannya berbalik dan bersandar di meja wastafel, sambil terus menggosok, mata nakalnya menelusuri tubuhku.

Tak ada kata yang terucap……apalagi pembicaraan…….saat sambil menggelengkan kepala sekilas……sejenak menghela nafas…..dia kemudian mendekatiku….(ekspresi mukanya seperti menunjukkan, bahwa saat itu ada hal penting, yang harus segera diucapkan….)

Wajahnya yang menunduk untuk berkumur, atau tangannya yang memang harus menyilang untuk menaruh kembali pasta gigi di tempatnya (yang memang ada di samping tubuhku), seperti sengaja terlalu dekat ke dadaku. Dan dengan harum nafas mint yang tercipta, RA menjilat telingaku sekilas, dan berbisik “Aku nggak terlalu suka pasta gigi ini…..Mili, masih punya persediaan pepsodent?”

Kemudian sambil tetap tersenyum, RA keluar kamar mandi! Kali ini dia nggak lupa untuk menutup pintu……..dan…..GUBRAKKK……….terdengarlah suara para setan yang jatuh pingsan di kejauhan!…..(hihihi maaf, pak setan. sepertinya belum waktunya, anda beraksi!)

6 DESEMBER

Hari ini aku mendapat cerita, kalau bulan depan orang tua RA akan datang, mengunjungi kami.

Ahh sepertinya akan jadi bulan yang cukup rumit buat kami, karena mereka tak tau kalau kami belum menikah secara resmi dan hanya tinggal serumah tanpa ikatan hukum apapun juga. Aku tak ingin mereka tau, kalau sebetulnya hubungan kami mendapat tentangan keras dari pihak keluargaku. Mereka mungkin bukan orang yang ‘berada’, tapi mereka tetap manusia biasa, yang pasti akan merasa sedih jika melihat anak kebanggaannya seperti ‘tak diinginkan’.

Jadi ingat cerita 2 tahun yang lalu…

Saat itu kami baru berpacaran 3 bulan. Tentangan orang tuaku mencapai puncaknya, gara-gara dihasut oleh pihak keluarga mamaku. Orang tuaku sebetulnya tak pernah melihat seseorang dari materi saja, tapi mungkin karena derasnya cibiran, bisa dimaklumi kalau mereka jadi agak goyah. Dan di suatu pertengkaran, aku memutuskan untuk lari dengan RA, pulang ke rumah orang tuanya. Perjalanan yang mendebarkan, karena RA malah jatuh sakit, dan membuatku harus memeluknya semaleman.

(Hehehe jangan tanya apa yang kami lakukan semaleman itu di balik selimut, tapi tanya apa yang tidak kami lakukan saja, agar daftar list jawabannya bisa lebih pendek! hihi)

Sangat menyedihkan, justru setelah perjalanan panjang itu, ibu RA justru tidak menunjukkan sikap penerimaan terhadap kehadiranku. Mungkin karena aku yang terlihat seperti terlalu ‘orang kota’, atau mungkin penolakan itu hanyalah hal biasa yang dilakukan setiap ibu di dunia, saat merasa sedikit bersaing karena takut kehilangan anak laki-laki satu-satunya.

Orang tuaku ternyata mengejarku ke kota kecil itu dan merayuku untuk ikut pulang bersama mereka. RA dengan tetap tersenyum, mengantarkanku ke rumah besar keluargaku, yang salah satunya juga ada di kota kecil itu. Di antara hal yang paling memilukan hati, kok bisanya motor RA masuk ke dalam parit kecil, yang ada di depan rumahku. Aku bisa ikut merasakan sakitnya RA, bukan karena fisiknya yang tergores-gores, tapi ditertawakan oleh semua keluarga mama (yang kebetulan sedang berkumpul di rumah peristirahan itu), saat RA belepotan air kotor.

“Ahh mulai sore hari itu aku bersumpah, aku akan membuktikan kepada semua orang yang tertawa terbahak-bahak di balkon rumah itu, kalau RA bisa membahagiakanku”.

Saat melihat tatapan kelam di mata tajamnya, yang hanya tersenyum tipis membalas keriuhan itu, adalah aku yang sebenarnya jauh lebih terluka.

Kenangan yang sangat luar biasa bagiku, saat di malam itu aku memeluk pinggangnya, waktu membonceng motornya dalam hujan yang turun begitu derasnya. Memang ada sedikit rasa sedih di antara airmata yang bercampur dengan butiran air hujan, tapi juga ada rasa hangat di dada, rasa ’saling menggenggam jiwa’ dan rasa hasrat janji ‘untuk membuktikan’ yang berkobar di dada.

Aneh sekali, saat itu kami bahkan seperti tak merasa kedinginan, hingga tak ingin berhenti menepi. Hanya ingin terus berlari…..hingga dunia tak bisa mengejar kami lagi.

Sudah banyak hal baik yang terjadi, di antara hubunganku dengan ibu RA, selama 2 tahun ini. Ahh tapi entah mengapa, aku kok punya firasat, kalau bulan depan akan ada kejadian seru…………hmmmm rumitnya dunia!

1 DESEMBER

Hari ini aku terbangun dengan paniknya……

Bagaimana mungkin aku ketiduran dan belum sempat belajar untuk ujian. Aku tak ingin mendapat nilai jelek, yang makin membuat orang dengan mudah mencemoohku. Rasanya sudah cukup, setelah dengan suksesnya aku akhir-akhir ini kebanjiran cibiran, karena telah memilih hidup bersama dengan seorang lelaki tanpa status hukum apapun.

Akhirnya kukeluarkan jurus andalanku, membuat contekan di kertas kecil dan kumasukkan di kotak pensilku sambil berharap penjaga ujiannya tidak akan memergokiku. Hal yang sangat sia-sia, mengingat mata kuliahnya adalah hitungan. Ya ampun kenapa semuanya serba matematika ya? matematika ala ekonomi mikro, matematika ala ekonomi makro atau matematika ala matematika ekonomi. Dulu aku mendapat nilai D, untuk mata kuliah pengantar matematika, saat di undergraduate. Dan sekarang, rasanya aku mulai menyesali keputusanku melanjutkan kuliah lagi.

Mengerikan!!!!!!!!!

RA terbangun dan hanya tersenyum jail, melihat tingkah panikku. Entah kenapa, aku merasa malu padanya kalau ketahuan sedang membuat contekan, hingga walau tanpa ditanya, aku membuat proklamasi kalau sedang membuat ‘RINGKASAN’ untuk dibaca-baca di jalan nanti. Aku kesal sekali menyadari, kalau ia sepertinya bahkan tak pernah repot belajar keras, untuk mendapatkan nilai A. Setelah berjanji untuk pulang lebih awal dan berangkat bersama nantinya, ia kemudian berangkat ke kantor, dan aku meneruskan membuat jampi-jampi.

“Seratus Ciuman untuk Satu Contekan Jawaban!……..Deal, Mili sayang?” katanya menggoda, dengan tatapan mata nakalnya yang khas. Entah mengapa, saat melihat sekilas kilatan berbahaya di mata RA itu, aku justru tak merasa ketakutan. Ada hasrat keingin-tahuan di hatiku yang bergejolak, hingga mengambil resiko meniti benang tipis, hanya untuk melihat sampai sedalam apa kolam kelam di matanya itu menelanku.

Hari itu berakhir dengan sukses. Hehe, dengan korban punggung jaketnya RA, yang penuh dengan bekas sepatuku (aku tulus mendoakan para penemu kursi kelas, model studio bioskop itu, supaya amalnya di terima di sisiNYA….amin! hehehe). Ternyata ada untungnya juga jadi mahasiswa yang mengulang (hikz tapi yang keterlaluan, kok bisa dari 6 mata kuliah, aku mengulang 4 mata kuliah! Ya TUHAN, kemana perginya si anak teladan dulu itu, ya?), hingga aku bisa sering sekelas dengan RA, karena kami mengambil kuliah di graduate school yang sama.

Yah aku bangga bersama lelaki itu……

RA mungkin, tak bisa memberikan kemewahan dunia sekarang, untukku. RA mungkin, dikenal sebagai laki-laki berbahaya yang harusnya di jauhi. Tapi saat bersamaku, RA hanya seorang laki-laki yang memberikan sejuta kedamaian, hingga aku tak malu memperkenalkannya pada MR (lelaki yang dulu sempet dekat denganku, hanya karena aku membutuhkannya sebagai ‘tameng’ di depan orang tuaku, agar mereka berhenti ‘menginterogasiku’ tentang RA).

Ahh sayangnya kesenangan hari ini agak ternoda, saat di luar kelas, teman RA dengan nada bergosip menanyakan “Mili, kamu udah tinggal bareng ya?………soalnya aku dapet komplain dari perkumpulan temen kita di sini, untuk mengingatkan saja, biar nggak salah jalan. Maaf ikut campur, tapi teman kan harus saling mengingatkan, bukan?”

Duh kok jalan ceritanya, jadi mulai agak rumit ya? Apa yang kira-kira akan terjadi nanti, ya?

17 NOVEMBER

Beberapa hari yang lalu, rencananya aku mau bikin sambel bawang. Aku baru tau, kalau membuat hal sesimpel itu butuh trik khusus.

Tadinya, aku mau menunjukkan pada RA, kalau aku bukan cuma anak manja, yang harus diperlakukan seperti tuan putri. Dari awal pindah rumah bersama, aku sudah berusaha setengah mati, membersihkan dan mengatur sendiri semuanya. Sayangnya ternyata, mungkin hal membersihkan rumah bisa dipelajari dalam waktu instan, tapi memasak adalah masalah lain.

Aku sebetulnya agak kesal, saat melihat senyumnya waktu pulang kantor, menemukanku sedang memakai perlengkapan perangku untuk menggoreng (jas hujan dan kaca mata hitam serta sarung tangan). Payahnya aku yang agak ceroboh, memastikan jam kepulangannya, hingga membuatnya mengetahui kalau itu pengalaman pertamaku ‘menggoreng ikan’.

Ahh malu-malu in!

Akhirnya bahkan pria itu yang mengajarkanku, bahwa mengulek sambal itu, sebaiknya langsung ditaburi garam dulu di atas bawangnya, biar tidak licin dan bawangnya tidak ‘loncat-loncat ga karuan’. Hehe ternyata menyenangkan memasak bersama itu. Merasakan hangat nafasnya di tengkuk dan leherku, sambil sekali-sekali ia menggodaku dengan jilatan-jilatan di telingaku.

Dari dulu, saat kami bersama selalu bisa membuatku melupakan segalanya, dan hanya bisa fokus memperhatikan segalanya tentang pria bermata nakal itu. Tadinya, aku pikir bukan masalah besar ‘berjanji untuk tidak saling menyentuh’, saat memutuskan untuk tinggal bersama tanpa status hukum apapun. Karena tadinya aku pikir, toh kami juga sudah biasa melakukan banyak hal kenakalan-kenakalan sebelumnya saat masih tidak tinggal bersama, dan selalu bisa berhenti menahan diri sebelum terlalu jauh.

Tapi menahan diri, saat tinggal bersama dalam satu atap, ternyata adalah masalah lain!

Aneh sekali, semakin dia berusaha keras menepati janjinya padaku, mengapa aku malah semakin sering berusaha menggodanya? Seperti berusaha mencoba mencari tahu, sampai sejauh mana kekuatannya. Kenapa ya?

16 NOVEMBER

Hari ini aku terbangun, dengan pemikiran “sepertinya akan agak susah bagi kami menepati janji untuk tidak saling menyentuh, walaupun tinggal di bawah atap rumah yang sama”.

Ternyata justru lebih mendebarkan suasana seperti ini dan malah meningkatkan hawa panas di rumah. Setidaknya, usaha kerasnya menjaga janjinya itu padaku, membuatku merasa makin mencintainya. Tak terbayangkan pria bermata nakal itu, bersedia dan mau menahan diri, demi ambisi semu ku. Yah Mungkin, pemikiranku agak tak waras, saat beberapa hari lalu memutuskan tinggal bersama pria tanpa ikatan hukum apapun. Tapi ternyata masih ada sedikit waras yang tersisa dariku, saat memintanya untuk berjanji ‘tak menyentuhku sampai semuanya tertata rapi 2 tahun lagi nanti’.

(walau sekarang, sepertinya justru pria itu yang patut dipertanyakan kewarasannya, karena mau berusaha menepati janjinya padaku)

Bersamanya, aku selalu merasa aman, walau dari dulu semua keluargaku mengingatkanku mati-matian akan statusnya sebagai ‘anak nakal’. Yang pasti, dulu aku selalu merasa bangga saat bersamanya, apalagi mengetahui kalau pria itu jadi incaran banyak temanku. Ah pesona ‘bad boy’ memang irresistable. Hingga aku yang biasanya tertata rapi dalam menjalankan hidup, juga ikut terbawa pesonanya. Yah sebelumnya aku ‘yang berdarah dingin’ bahkan punya jadwal, kapan aku musti ‘jadian’ dengan seorang pria dan kapan waktunya untuk mulai ‘menendangnya’. Aku juga biasanya hanya memilih pria yang memiliki status sosial yang sama.

Tapi kali itu, aku memang tak sadar mulai terbawa putaran arusnya.

Lucu sekali, main rumah-rumah an seperti ini. Kemarin, dia mengajariku caranya memasak sop, yang dia bilang kalau itu trik andalannya ‘untuk membuatku tak curiga, saat dulu ingin mengajakku ke tempatnya, agar bisa bermesraan di sana’. Hehe jadi ingat, dulu aku selalu merasa sedih, setiap kali pulang dari tempatnya. Membayangkan betapa banyaknya dosa yang kubuat saat bersamanya, selalu membuatku merasakan tekanan batin. Menyedihkan sekali, aku begitu seringnya membohongi orangtuaku, sejak bertemu dengannya.

Dia memang pria pertamaku walau sebelumnya aku juga sudah sering berpacaran, tapi dulu tak pernah melibatkan ikatan emosional apalagi fisik, hanya sebagai status ‘rasanya menyenangkan punya pacar’.

Aku ingat saat mendapatkan ciuman pertamaku, 2 tahun lalu, saat kami baru berpacaran satu bulan (Aduh, kok bisa ya? Padahal tadinya, aku ingin memberikan ciuman pertamaku di malam tahun baru, saat hubungan kami genap 3 bulan. Saat itu, rasanya aku seperti wanita murahan yang gampangan. Ah memori tak terlupakan!). Hari itu dia sedang membantuku, menyelesaikan tugas kuliah, di kamar temanku. Entah mengapa, dari dulu saat bersamanya selalu membuatku ingin mencoba mengeksplorasi pengalaman seksualitasku, yang sebenarnya agak aneh mengingat aku yang selama ini dikenal sebagai ‘anak-anak baik panutan banyak orang’. Aku tadinya hanya ingin bermain-main menggodanya, saat menyorongkan bibirku ke depannya, yang akhirnya jadi sangat mengagetkan saat tiba-tiba bibirnya menangkapku.

Aneh sekali, ternyata rasanya tidak semenjijikan itu, berada di dalam mulut orang lain. Walau waktu itu, aku ternyata kok nggak bisa menikmatinya ya…… Apa karena takut ketahuan orang lain saat itu? (lagian, yang keterlaluan, kok ya jail banget, pria itu membuat ciuman pertamaku langsung pakai lidah?).

Yang pasti, dimulai dari hari itu, semua tindakanku saat bersamanya makin tak terkontrol dan masuk akal, bagi yang katanya seorang ‘gadis baik-baik’. Hingga puncaknya tindakan ‘tak masuk akalku’ yang terakhir, saat memutuskan tinggal bersamanya, tanpa ikatan hukum apapun. Pria itu bernama RA, dan dia sanggup membuatku memberikan seluruh duniaku padanya.