Begitu banyak cerita yang terjadi dalam beberapa hari ini, hingga aku bingung sendiri, harus dari mana untuk mulai menulis.
Prolog, beberapa hari yang lalu…..
Sore itu aku sedang sibuk membersihkan rumah, karena orang tua RA akan datang beberapa hari lagi. Well, aku berharap paling nggak, tempat mungil kami nggak akan terlalu kelihatan sumpek, saat nanti mereka marah waktu akhirnya mengetahui bahwa aku sudah tinggal serumah dengan anak laki-laki satu-satunya mereka, tanpa selembar pun surat nikah (hehe apa coba hubungannya!).
Segitu semangatnya bersih-bersih, sampai tak menyadari, ada seorang lelaki paruh baya sedang memperhatikanku dari kejauhan. Bapak itu terlihat gagah, walau tatapan matanya terlihat begitu lembut, diterpa hangatnya matahari senja itu. Laki-laki itu terlihat berbeda jauh, dengan laki-laki yang sering berteriak padaku, di setiap pertengkaran yang terjadi sejak aku mengenal RA. Ia kemudian memelukku, menciumku di dahi dan menanyakan “Jadi, yang tinggal di sebelah rumahmu itu, tukang pijet dan tukang sayur ya? Enak dong, jadi bisa dapet diskon, kalau mau belanja sekalian luluran?”
Epilog malam ini….
RA terlihat tersenyum jail. Sepertinya, hari ini dia sudah memutuskan untuk sering memberikan bonus kernyitan tatapan nakal, untuk istri barunya. Tadi pagi, dengan tertatih-tatih melangkah (Akibat kecelakaan beberapa hari yang lalu, kaki RA harus dijahit! ooh i wish, aku bisa dengan heroik bercerita, kalau RA kecelakaan karena ditabrak truk atau bis…….sayangnya dia cuma ketabrak bajaj! ………hehehe walau jelas aku juga sangat bersyukur!), kami berdua mencatatkan pernikahan di instansi pemerintah dekat rumah orang tuaku.
(Yah, TANPA DIDUGA dan benar sebuah kejutan besar bagi kami. Beberapa hari yang lalu, ayahku mengusulkan untuk meresmikan hubungan kami, begitu tau kalau orang tua RA akan datang. Demi darah yang sama mengalir di nadiku, ayahku tak ingin aku bersedih, karena membuat orang tua RA merasa anaknya ‘tak diinginkan’!!)
Sesuai permintaanku, tak ada cincin yang melingkar di jariku, karena aku tau, RA lebih membutuhkan uang itu untuk membayar biaya kuliah semester depan. Dan sesuai permintaannya, tak ada malam pertama jua di ujung hari ini, karena RA sudah memutuskan untuk tetap menepati janjinya padaku ‘meneruskan main rumah-rumah an’ hingga 2 tahun ke depan nanti “saat keadaan sudah jauh tertata rapi….saat kamu bisa bangga bersandar di pundakku…..saat aku tak merasa jengah lagi, menerima cinta tanpa syaratmu……Maaf, tapi kamu terlalu berharga buatku……..dan aku ingin menikmati semuanya perlahan……dalam kesempurnaan.”
(hehehe kenapa jadi malah tambah mendebarkan di dada ya? Saat tak ada lagi tembok penghalang…….Saat semua sudah legal…….satu tatapan mata nakalnya RA……..terasa seperti…..DEFINITELY MENGGODAKU UNTUK MENGGODANYA! ….halahhh Lebay!)
Naif kah, jika aku rela memberikan segalanya dan tak mengharapkan balasan apapun, pada seseorang yang memberikanku kedamaian untuk terus berjalan? Ahh seperti belum cukup rumit dengan semua masalah yang ada, RA akan dipecat dari kantornya, terhitung tanggal 14 Januari besok (….hihihi……ayoo dunia….timpuk aja terus!….mumpung lagi nggak ada, orang yang punya itu kepala!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar