16 NOVEMBER

Hari ini aku terbangun, dengan pemikiran “sepertinya akan agak susah bagi kami menepati janji untuk tidak saling menyentuh, walaupun tinggal di bawah atap rumah yang sama”.

Ternyata justru lebih mendebarkan suasana seperti ini dan malah meningkatkan hawa panas di rumah. Setidaknya, usaha kerasnya menjaga janjinya itu padaku, membuatku merasa makin mencintainya. Tak terbayangkan pria bermata nakal itu, bersedia dan mau menahan diri, demi ambisi semu ku. Yah Mungkin, pemikiranku agak tak waras, saat beberapa hari lalu memutuskan tinggal bersama pria tanpa ikatan hukum apapun. Tapi ternyata masih ada sedikit waras yang tersisa dariku, saat memintanya untuk berjanji ‘tak menyentuhku sampai semuanya tertata rapi 2 tahun lagi nanti’.

(walau sekarang, sepertinya justru pria itu yang patut dipertanyakan kewarasannya, karena mau berusaha menepati janjinya padaku)

Bersamanya, aku selalu merasa aman, walau dari dulu semua keluargaku mengingatkanku mati-matian akan statusnya sebagai ‘anak nakal’. Yang pasti, dulu aku selalu merasa bangga saat bersamanya, apalagi mengetahui kalau pria itu jadi incaran banyak temanku. Ah pesona ‘bad boy’ memang irresistable. Hingga aku yang biasanya tertata rapi dalam menjalankan hidup, juga ikut terbawa pesonanya. Yah sebelumnya aku ‘yang berdarah dingin’ bahkan punya jadwal, kapan aku musti ‘jadian’ dengan seorang pria dan kapan waktunya untuk mulai ‘menendangnya’. Aku juga biasanya hanya memilih pria yang memiliki status sosial yang sama.

Tapi kali itu, aku memang tak sadar mulai terbawa putaran arusnya.

Lucu sekali, main rumah-rumah an seperti ini. Kemarin, dia mengajariku caranya memasak sop, yang dia bilang kalau itu trik andalannya ‘untuk membuatku tak curiga, saat dulu ingin mengajakku ke tempatnya, agar bisa bermesraan di sana’. Hehe jadi ingat, dulu aku selalu merasa sedih, setiap kali pulang dari tempatnya. Membayangkan betapa banyaknya dosa yang kubuat saat bersamanya, selalu membuatku merasakan tekanan batin. Menyedihkan sekali, aku begitu seringnya membohongi orangtuaku, sejak bertemu dengannya.

Dia memang pria pertamaku walau sebelumnya aku juga sudah sering berpacaran, tapi dulu tak pernah melibatkan ikatan emosional apalagi fisik, hanya sebagai status ‘rasanya menyenangkan punya pacar’.

Aku ingat saat mendapatkan ciuman pertamaku, 2 tahun lalu, saat kami baru berpacaran satu bulan (Aduh, kok bisa ya? Padahal tadinya, aku ingin memberikan ciuman pertamaku di malam tahun baru, saat hubungan kami genap 3 bulan. Saat itu, rasanya aku seperti wanita murahan yang gampangan. Ah memori tak terlupakan!). Hari itu dia sedang membantuku, menyelesaikan tugas kuliah, di kamar temanku. Entah mengapa, dari dulu saat bersamanya selalu membuatku ingin mencoba mengeksplorasi pengalaman seksualitasku, yang sebenarnya agak aneh mengingat aku yang selama ini dikenal sebagai ‘anak-anak baik panutan banyak orang’. Aku tadinya hanya ingin bermain-main menggodanya, saat menyorongkan bibirku ke depannya, yang akhirnya jadi sangat mengagetkan saat tiba-tiba bibirnya menangkapku.

Aneh sekali, ternyata rasanya tidak semenjijikan itu, berada di dalam mulut orang lain. Walau waktu itu, aku ternyata kok nggak bisa menikmatinya ya…… Apa karena takut ketahuan orang lain saat itu? (lagian, yang keterlaluan, kok ya jail banget, pria itu membuat ciuman pertamaku langsung pakai lidah?).

Yang pasti, dimulai dari hari itu, semua tindakanku saat bersamanya makin tak terkontrol dan masuk akal, bagi yang katanya seorang ‘gadis baik-baik’. Hingga puncaknya tindakan ‘tak masuk akalku’ yang terakhir, saat memutuskan tinggal bersamanya, tanpa ikatan hukum apapun. Pria itu bernama RA, dan dia sanggup membuatku memberikan seluruh duniaku padanya.

1 komentar: