Hari ini aku terbangun dengan paniknya……
Bagaimana mungkin aku ketiduran dan belum sempat belajar untuk ujian. Aku tak ingin mendapat nilai jelek, yang makin membuat orang dengan mudah mencemoohku. Rasanya sudah cukup, setelah dengan suksesnya aku akhir-akhir ini kebanjiran cibiran, karena telah memilih hidup bersama dengan seorang lelaki tanpa status hukum apapun.
Akhirnya kukeluarkan jurus andalanku, membuat contekan di kertas kecil dan kumasukkan di kotak pensilku sambil berharap penjaga ujiannya tidak akan memergokiku. Hal yang sangat sia-sia, mengingat mata kuliahnya adalah hitungan. Ya ampun kenapa semuanya serba matematika ya? matematika ala ekonomi mikro, matematika ala ekonomi makro atau matematika ala matematika ekonomi. Dulu aku mendapat nilai D, untuk mata kuliah pengantar matematika, saat di undergraduate. Dan sekarang, rasanya aku mulai menyesali keputusanku melanjutkan kuliah lagi.
Mengerikan!!!!!!!!!
RA terbangun dan hanya tersenyum jail, melihat tingkah panikku. Entah kenapa, aku merasa malu padanya kalau ketahuan sedang membuat contekan, hingga walau tanpa ditanya, aku membuat proklamasi kalau sedang membuat ‘RINGKASAN’ untuk dibaca-baca di jalan nanti. Aku kesal sekali menyadari, kalau ia sepertinya bahkan tak pernah repot belajar keras, untuk mendapatkan nilai A. Setelah berjanji untuk pulang lebih awal dan berangkat bersama nantinya, ia kemudian berangkat ke kantor, dan aku meneruskan membuat jampi-jampi.
“Seratus Ciuman untuk Satu Contekan Jawaban!……..Deal, Mili sayang?” katanya menggoda, dengan tatapan mata nakalnya yang khas. Entah mengapa, saat melihat sekilas kilatan berbahaya di mata RA itu, aku justru tak merasa ketakutan. Ada hasrat keingin-tahuan di hatiku yang bergejolak, hingga mengambil resiko meniti benang tipis, hanya untuk melihat sampai sedalam apa kolam kelam di matanya itu menelanku.
Hari itu berakhir dengan sukses. Hehe, dengan korban punggung jaketnya RA, yang penuh dengan bekas sepatuku (aku tulus mendoakan para penemu kursi kelas, model studio bioskop itu, supaya amalnya di terima di sisiNYA….amin! hehehe). Ternyata ada untungnya juga jadi mahasiswa yang mengulang (hikz tapi yang keterlaluan, kok bisa dari 6 mata kuliah, aku mengulang 4 mata kuliah! Ya TUHAN, kemana perginya si anak teladan dulu itu, ya?), hingga aku bisa sering sekelas dengan RA, karena kami mengambil kuliah di graduate school yang sama.
Yah aku bangga bersama lelaki itu……
RA mungkin, tak bisa memberikan kemewahan dunia sekarang, untukku. RA mungkin, dikenal sebagai laki-laki berbahaya yang harusnya di jauhi. Tapi saat bersamaku, RA hanya seorang laki-laki yang memberikan sejuta kedamaian, hingga aku tak malu memperkenalkannya pada MR (lelaki yang dulu sempet dekat denganku, hanya karena aku membutuhkannya sebagai ‘tameng’ di depan orang tuaku, agar mereka berhenti ‘menginterogasiku’ tentang RA).
Ahh sayangnya kesenangan hari ini agak ternoda, saat di luar kelas, teman RA dengan nada bergosip menanyakan “Mili, kamu udah tinggal bareng ya?………soalnya aku dapet komplain dari perkumpulan temen kita di sini, untuk mengingatkan saja, biar nggak salah jalan. Maaf ikut campur, tapi teman kan harus saling mengingatkan, bukan?”
Duh kok jalan ceritanya, jadi mulai agak rumit ya? Apa yang kira-kira akan terjadi nanti, ya?
ahaha, ada2 aja
BalasHapus