19 DESEMBER

Hari ini habis pulang dari kampus, aku jadi memikirkan banyak hal.

Teman deketku FIR, akhirnya mengetahui kalau aku sudah tinggal bersama RA. Daripada lelah untuk selalu mengelak dengan gaya basa-basi berjamur, aku akhirnya mengiyakan, saat dikonfirmasi tentang gosip yang merebak di antara teman-teman kampus. Dengan terkekeh-kekeh sepanjang pelajaran, ada rasa lega, akhirnya aku punya seseorang yang bisa diajak berbicara dengan jujur. Hanya ada dua pertanyaan pentingnya. Apakah RA di tempat tidur, ’senakal’ cerita hidupnya? dan Mengapa RA, bukan MR yang jelas jelas merupakan laki-laki yang lebih dari RA dalam segala hal menurut semua kacamata duniawi?

Karena aku malas menjawab pertanyaan pertama, maka diskusi selanjutnya berkembang ke pertanyaan ke dua………..dan sayangnya……aku tak tau jawabannya!

Sungguh aku tak mengerti mengapa aku memilih RA, ketimbang MR, yang jelas-jelas sudah diterima orang tuaku. Aku ingat, dulu aku sering berpura-pura minta ijin untuk pergi bersama MR, padahal nyatanya aku pergi bersama RA. Aneh memang, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta dengan MR, yang nyaris sempurna. Badan tingginya dan wajah tampannya, nggak kalah dengan model. MR juga terlihat sangat matang dan sabar, yang saat itu jauh berbeda dengan RA, hingga wajar orangtuaku begitu gembira saat aku membawa MR ke rumah.

Aku ingat saat dulu Papaku pertama kali bertemu RA…

Dengan kalung anjing melingkar di leher, dan telinga yang memakai anting, serta nada suaranya yang kata adikku seperti preman. Wajar jika papaku tidak jatuh cinta, bahkan selalu merasa sedih, karena sejak hari itu aku selalu bertengkar dengannya karena RA. Andai aku bisa jatuh cinta dengan MR, cerita hidupku pasti tak serumit sekarang. Tapi aku tak bisa, bagaimanapun kerasnya aku mencoba. Tiap detik saat bersama MR, rasanya seperti ribuan menit, yang membuatku selalu melirik jam di pergelangan tanganku untuk bisa segera pergi bertemu RA.

Yah aku sudah curang pada MR, selama 6 bulan itu……tapi pada RA, aku menceritakan segalanya……dan aku benci melihat tatapan terluka di mata RA, setiap kali dia menjemputku yang habis pergi dengan MR. Dia mengerti benar, kalau aku terpaksa melakukan itu, karena aku sudah lelah bertengkar dengan papaku. Satu yang membuatku makin jatuh dalam pelukannya, adalah karena RA tak pernah mengkonfrontir setiap masalah yang datang dalam hubungan kami, yang disebabkan karena orangtuaku. Dia cukup tau kalau aku selalu menempatkannya di atas segalanya, dan percaya penuh bahwa setiap tindakanku, pasti sudah dipersiapkan dengan detil hanya untuk cinta kami.

Aku baru sadar, ternyata sejak dari awal kami bertemu, kami sudah membuat benteng tersendiri dalam dunia kami……tempat dimana hanya ada MILI dan RA……..sementara yang lainnya hanyalah hembusan angin….

Aku sudah muak berbohong dan terus berpura-pura, hingga aku membongkar segalanya, sampai puncaknya aku akhirnya meninggalkan istana besarku dan tinggal bersama RA. Dan aku bahagia!

Barusan aku menangis, karena salah memencet tombol rice cooker, hingga berasnya belum jadi nasi (…..duhh sayangnya harus dibuang……) dan RA hanya tertawa(……..ahh aku selalu merasa damai saat menatap mata itu, yang selalu terlihat hanya segaris saat dia terbahak-bahak). Kemudian dengan tetap tersenyum, dia menyuruhku duduk dan menggantikanku memasak.

Aku tak tau apa yang akan terjadi di depan sana nanti………yang jelas saat ini…….AKU SANGAT BAHAGIA!

1 komentar: