Hari ini aku mendapat cerita, kalau bulan depan orang tua RA akan datang, mengunjungi kami.
Ahh sepertinya akan jadi bulan yang cukup rumit buat kami, karena mereka tak tau kalau kami belum menikah secara resmi dan hanya tinggal serumah tanpa ikatan hukum apapun juga. Aku tak ingin mereka tau, kalau sebetulnya hubungan kami mendapat tentangan keras dari pihak keluargaku. Mereka mungkin bukan orang yang ‘berada’, tapi mereka tetap manusia biasa, yang pasti akan merasa sedih jika melihat anak kebanggaannya seperti ‘tak diinginkan’.
Jadi ingat cerita 2 tahun yang lalu…
Saat itu kami baru berpacaran 3 bulan. Tentangan orang tuaku mencapai puncaknya, gara-gara dihasut oleh pihak keluarga mamaku. Orang tuaku sebetulnya tak pernah melihat seseorang dari materi saja, tapi mungkin karena derasnya cibiran, bisa dimaklumi kalau mereka jadi agak goyah. Dan di suatu pertengkaran, aku memutuskan untuk lari dengan RA, pulang ke rumah orang tuanya. Perjalanan yang mendebarkan, karena RA malah jatuh sakit, dan membuatku harus memeluknya semaleman.
(Hehehe jangan tanya apa yang kami lakukan semaleman itu di balik selimut, tapi tanya apa yang tidak kami lakukan saja, agar daftar list jawabannya bisa lebih pendek! hihi)
Sangat menyedihkan, justru setelah perjalanan panjang itu, ibu RA justru tidak menunjukkan sikap penerimaan terhadap kehadiranku. Mungkin karena aku yang terlihat seperti terlalu ‘orang kota’, atau mungkin penolakan itu hanyalah hal biasa yang dilakukan setiap ibu di dunia, saat merasa sedikit bersaing karena takut kehilangan anak laki-laki satu-satunya.
Orang tuaku ternyata mengejarku ke kota kecil itu dan merayuku untuk ikut pulang bersama mereka. RA dengan tetap tersenyum, mengantarkanku ke rumah besar keluargaku, yang salah satunya juga ada di kota kecil itu. Di antara hal yang paling memilukan hati, kok bisanya motor RA masuk ke dalam parit kecil, yang ada di depan rumahku. Aku bisa ikut merasakan sakitnya RA, bukan karena fisiknya yang tergores-gores, tapi ditertawakan oleh semua keluarga mama (yang kebetulan sedang berkumpul di rumah peristirahan itu), saat RA belepotan air kotor.
“Ahh mulai sore hari itu aku bersumpah, aku akan membuktikan kepada semua orang yang tertawa terbahak-bahak di balkon rumah itu, kalau RA bisa membahagiakanku”.
Saat melihat tatapan kelam di mata tajamnya, yang hanya tersenyum tipis membalas keriuhan itu, adalah aku yang sebenarnya jauh lebih terluka.
Kenangan yang sangat luar biasa bagiku, saat di malam itu aku memeluk pinggangnya, waktu membonceng motornya dalam hujan yang turun begitu derasnya. Memang ada sedikit rasa sedih di antara airmata yang bercampur dengan butiran air hujan, tapi juga ada rasa hangat di dada, rasa ’saling menggenggam jiwa’ dan rasa hasrat janji ‘untuk membuktikan’ yang berkobar di dada.
Aneh sekali, saat itu kami bahkan seperti tak merasa kedinginan, hingga tak ingin berhenti menepi. Hanya ingin terus berlari…..hingga dunia tak bisa mengejar kami lagi.
Sudah banyak hal baik yang terjadi, di antara hubunganku dengan ibu RA, selama 2 tahun ini. Ahh tapi entah mengapa, aku kok punya firasat, kalau bulan depan akan ada kejadian seru…………hmmmm rumitnya dunia!
....
BalasHapus